Jumat, 02 Mei 2014

Untuk Mama

Ma . . .
Mengapa aku seperti ini?
Mengapa aku benci dibentak?
Mengapa aku terlalu kekanakkan... seperti anak kecil
Mengapa aku membencinya?
Benci tapi sebenarnya sayang..

Aku menangis setiap kali dibentak..
Aku selalu menyalahkan keadaan setiap kali dibentak..
Aku selalu menggerutu setiap kali dibentak..
Aku selalu mengurung diri setiap kali dibentak..

Meski aku tau sebenarnya ada rasa sayang dibalik itu,
tapi hatiku gemetar tiap kali mendengar gertakan
yang memanggil namaku..
Seperti ada sepercik api yang siap menyambarku..

Susah membuat diriku menjadi penyabar..
Membuat lapisan baja mengelilingi hati
supaya tahan percikan api.. emosi
Aku bisa apa dengan emosi?

Selasa, 12 November 2013

Aku ini Siapa?

Sekedar tulisan seorang pelajar yang sedang bersemangat.

Aku hanya berharap perasaan ini abadi, meski aku tau hidup di dunia tidak akan abadi..
Perasaan yang bisa membangkitkan semangatku.. Memberi dampak positif bagiku..
Walau aku tak tau apakah dirimu juga merasakan apa yang aku rasakan.

Ini sungguh nyata.
Bagaikan Crayon Caran' Dache, dirimu mempoles berbagai warna dalam hatiku..
Dengan tekstur yang halus, lembut, dan tak bisa ditimpa dengan alat tulis lain, begitu sempurna rasanya.

Setiap hari, dimanapun, dan kapanpun,
Pikiran tentang dirimu melintas seperti angin yang berhembus setiap saat..
Tak bisa diperkirakan kapan aku akan memikirkanmu,
tapi sudah menjadi rutinitas yang tak menentu waktunya..
Meski itu membuatku terlihat seperti orang bodoh, tersenyum setiap saat,
tapi Aku menyukainya..


Aku mencintaimu.
tak ada dusta, dan aku ingin kamu percaya..yo.. :)

Senin, 05 November 2012

Real Nightmare?


This is a Real Story. It happened to myself on 4nd Nov. And I never forget this story, because...yaa it can't be forgotten lah..

 

Aku sedang terlelap. Tapi aku dapat mendengar suara pintu kamarku dibuka. Kurasa itu ayahku. Ya. Dia mengecek suhu tubuhku. Sepertinya tubuhku sudah membaik. Karena tidak ada respon apa-apa lagi darinya. Setelah ayahku pergi, aku dapat membuka mataku perlahan. Meski agak sulit, tapi tetap kupaksa karena aku hanya ingin mengecek jam. Oh..ternyata baru jam 23.00. Aku pun melanjutkan tidurku, dengan baju double+jacket+double bed cover yang melapisi tubuhku sekarang ini.

            Ayahku membangunkanku ketika aku sedang bermimpi indah -_- Lalu, ia menyodorkan sebotol Pocari Sweat yang berisi 900mL. Ia menyuruhku untuk meminum setengah dari isi botol tersebut. (HAH? Ga kuat T.T) Tapi aku menolaknya, karena aku tidak mampu dan lidahku sedang terasa pahit. Akhirnya aku hanya meminumnya sedikit, mungkin hanya 3 teguk. Setelah itu, ia hanya menyuruhku untuk selalu meminumnya. Dan aku pun hanya mengangguk. Saat ini sekitar jam 11 malam. Aku melanjutkan tidurku dan berharap mimpi tadi masih bisa dilanjutkan.

...

Ketika tidur, tiba-tiba aku merasa pusing. Kepalaku benar-benar sakit rasanya. Aku melihat ke arah jam, sudah menunjukkan pukul 01.00. Tiba-tiba, terlihat  seseorang keluar dari kamarku dan tidak menutup pintu kembali. Aku pikir itu ayahku, tapi aku mendengar suara dengkuran ayahku kali ini. Itu tandanya, ia sudah tidur daritadi. Karena aku benar-benar pusing, aku luruskan pandanganku. Tatapanku pun mengarah ke jendela kamarku. MASYA ALLAH. Aku kaget setengah mati. Tirai jendela sudah terbuka di sebelah kanan. Dan terlihat jendela disebelah kanan juga sudah terbuka. Padahal aku sangat yakin kalau tadi sore, aku sudah menutupnya dengan rapat. Bahkan, jendela itu sangat mustahil untuk terbuka sendiri karena kaitan jendelanya sangat rapat. 

Aku benar-benar pusing saat ini. Aku berusaha memejamkan mataku. Berusaha untuk tidur kembali. Aku tidak mau menyaksikan apa yang terjadi saat ini. Tapi aku tidak bisa tidur. Lalu kupaksa untuk bangun. Akhirnya aku bisa bangun, dan duduk dulu untuk menyeimbangkan tubuhku. Aku menunduk, sambil memegangi kepalaku. Aku memijatnya perlahan. Dan itu cukup membuatku sedikit rilex. Saat aku merasa sudah tenang, aku mencoba membuka mataku dengan perlahan. Berharap kejadian tadi hanyalah ilusi saja.

Tapi...

Ruangan kamarku berubah jadi gelap. Entah siapa yang mematikan lampu kamarku. Pintu kamarku juga masih terbuka. Bahkan jendela pun masih terbuka. Aku melihat kebelakangku dan... ASTAGFIRULLAH. Ada ragaku sedang berbaring di kasur. Ragaku terlihat gelisah dan berkeringat dengan bed cover yang menutupinya. Aku lemas dan menangis melihat ragaku sendiri. Jika dia memang diriku, lalu aku ini siapa?

...

Aku terbangun oleh suara alarm dari handphone ayahku. Sudah jam 4.30, tapi aku masih mengantuk dan merasa lelah sekali. Seperti sudah dikuras tenaganya selama semalam. Aku juga mendapati tubuhku yang penuh dengan keringat. Aku mengelap keringatku menggunakan kain kecil yang ada di sebelah tempat tidurku. Setelah selesai, aku meminum Pocari Sweat yang telah diberikan ayahku semalam. Sambil menelan minuman itu, aku melihat ke arah sekelilingku. Tidak ada yang janggal. Hanya pintu kamar saja yang tidak tertutup. Setelah puas dengan minuman itu, aku tidur lagi untuk memulihkan tenagaku.

Lagi. Aku terbangun kembali. Karena suara gemericik air dari kamar mandi yang letaknya disebelah kamarku. Sangat berisik sampai-sampai mampu membuat mataku terbuka lebar dalam sekali kedipan. Ini sudah jam 6 pagi. Dan aku tahu itu pasti ayahku sedang wudhu. Beberapa menit ketika aku terdiam, aku sadar kalau juga belum Solat Shubuh. Aku beranjak dari tempat tidurku dengan sedikit sempoyongan karena kepalaku masih terasa sakit. Aku mengambil air wudhu. Dan melaksanakan Solat Shubuh sendirian di kamar.

Aku membereskan peralatan Solat sesudahnya. Kemudian mematikan lampu dan AC yang sedari tadi sore sudah menyala dengan suhu 27 derajat celcius. Meskipun dengan suhu yang lumayan tinggi tersebut, aku masih merasa kedinginan semalam. Ya. Karena aku sedang sakit. Aku membuka tirai jendelaku. Dan tak kulihat matahari bersinar. Sepertinya ia sedang bersembunyi di balik awan. Saat aku mau membuka kaitan jendelaku yang sebelah kanan, aku mendapatinya sudah terbuka. Dan tiba-tiba jendela itu bergoyang sendiri. Aku sadar, kecepatan angin saat ini sedang lumayan kencang. Terbukti dari tumbuhan yang bergoyang di depan kamarku. Tapi rasanya mustahil jika jendela kamarku yang agak berat itu bergoyang oleh angin sekarang ini.

Melihat jendela ini, aku jadi teringat kejadian tadi malam. Aku masih bingung. Tadi malam itu mimpi atau nyata? Terasa seperti mimpi, tapi melihat jendela ini jadi terasa sangat nyata. Di rumah tidak ada orang lain  tadi malam. Hanya ada aku dan ayahku yang ada di rumah. Bunda sedang pergi ke solo, karena ada urusan yang sangat penting. Kepalaku terasa sakit kembali saat ini. Seperti ada yang menacapkan paku di bagian belakangnya. Aku putuskan untuk merebahkan tubuhku di tempat tidur lagi. Ya Allah.. Semoga besok aku sudah sehat kembali. Sangat tidak lucu jika aku tidur selama 72 jam sejak hari sabtu.
 

Sabtu, 20 Oktober 2012

At Home with Alien

Everyday I live with aliens.  I can't go elsewhere. Just stay at home and do their order to me. No one knows about my life story. And no one knows about my true family.

Kamu tahu..itu rasanya menyakitkan..
Seperti hidup di planet lain..
Seperti hidup di antara alien-alien..
Berbicara pada alien
dan mengerjakan tugas untuk alien..
Alien tidak akan mengerti apa yang aku rasakan..
Alien tidak akan mengerti apa yang sedang aku lakukan..
Alien tidak mengerti apa yang sedang kusampaikan..
Alien tidak mengerti bagaimana cara merespon yang tepat untuk diriku

Aku berbeda dengan alien
Aku tidak memiliki gen yang sama dengan alien
Aku tidak memiliki darah yang sama yang mengalir pada alien
Aku memiliki sifat yang tidak sama dengan alien
Aku juga tidak bisa merasakan cinta dari seorang alien
Kenapa?
Karena dia seorang alien.. berbeda dengan diriku

Apa alien tahu bagaimana cara mencintai seseorang seperti aku?
Apa alien tahu bagaimana cara menyayangi seseorang seperti aku dengan baik?
Apa alien tahu bagaimana cara meredam kemarahan seseorang seperti aku?
Apa alien tahu bagaimana cara menghibur seseorang seperti aku?
APA ALIEN TAHU????

Jika memang alien tahu...
Setidaknya alien harus bertanya dahulu pada mamaku bagaimana mencintai orang seperti aku..
Alien harus belajar dari mamaku bagaimana menyayangi orang seperti aku...
Alien harus mempelajari cara mamaku meredam kemarahanku..
Alien harus dekat dengan mamaku untuk bisa menghiburku..
Alien harus belajar semuanya dari mamaku jika memang ingin tahu tentang diriku..

Alien tidak pernah tahu tentang aku..
Kenapa?
Karena alien tidak dekat dengan mamaku..
Karena alien selalu jauh dari mamaku..
Karena alien bermusuhan dengan mamaku..
Karena alien tidak pernah akur dengan mamaku..
Karena alien selalu acuh tak acuh pada mamaku..
Karena alien tidak mau bertemu dengan mamaku...
Alien tidak pernah mau menemui mamaku..
Alien tidak pernah mau menemui nenekku..
Alien tidak pernah mau menemui keluargaku...


To Be Continue

Jumat, 05 Oktober 2012

~IKUTI KATA HATI~

Aku terluka mengingat masa lalu
Aku bosan menunggu hari esok
Aku lelah hidup di dunia

Ikuti kata hati

Aku terjatuh dalam hidup-ku
Aku terbakar dalam suhu-ku
Aku terpuruk dalam semangat-ku

Ikuti kata hati

Aku tak bisa berfikir
Aku tak bisa mengingat
Aku tak bisa  dan tak bisa..

Ikuti kata hati..
Ikuti kata hati..
Ikuti kata hati....

Aku bisa terdiam
Aku bisa merenung
Aku bisa melamun

Diamlah.. Merenunglah.. Melamunlah..
Jika memang hanya itu yang bisa..
Ikutilah dengan hati..
 

Selasa, 02 Oktober 2012

[Vid] Ekspedisi with SLA-KR




 

Video ini cuma iseng-iseng di sekolah, karena sedang mencari kegiatan maka kami membuat video ini.
Meskipun video ini sangat GAJE, tapi sekarang video ini sangat berharga bagi saya.
Di dalam video ini terdapat kenangan bersama teman-teman saya di Solo.
Semoga kita bisa bersama lagi suatu saat nanti :')
Love you MY SLA-KR~~

Senin, 01 Oktober 2012

[X] Example 'Breaking News'



Surakarta reaches out to street children


An official says that data verification problems are one factor hindering implementation of a program aimed at lifting street children in Surakarta, Central Java, out of poverty.

Surakarta, also known as Solo, did not have comprehensive information on the progress of an identification-and-training program aimed at street children launched in 2010.

Agus Hastanto, the head of the Surakarta Social Affairs and Transmigration Agency’s social division, said that officials could not solely rely on electronic data collection to help street children.
“It requires door-to-door identification,” Agus told The Jakarta Post on Monday.
Agus said that the administration had had difficulties in identifying who could accurately be defined as “street children”.

Incorrect identification might lead to poorly targeted training and aid programs, he said.
“This will further hamper the handling of street children.”

The program depended on the participation of the parents of street children, especially their mothers, who were asked to complete forms for their children so that officials could best determine which training programs were appropriate for the children.

Target children and their mothers are offered training under the program, after which each mother-and-child pair is given up to Rp 1.25 million (US$136.25) in seed money to start a business.

In practice, however, mothers used the forms to submit requests for needed items such as rice cookers, microwave ovens or washing machines, Agus said.

To speed identification, the administration was cooperating with NGOs such as the Family Welfare Consultation Institution (LK3), which verified the information about the street children at their homes.

LK3 chairman Suparno said that his workers were focusing on identifying children working as beggars or street musicians.

One problem, according to Suparno, was that the children applying for the program were not poor.
“Once we found a street musician who was actually a student seeking extra money to buy a cell phone,” Suparno said.
He added that such children were likely to return to their daily lives after raising the money needed to buy a cell phone and did not need the training program.

Most genuine street children, however, could not stay in their programs until their completion.

“It’s very difficult to make them stay. They will keep on going back to the street,” Suparno said, adding that LK3 so far had identified some 80 street children in Surakarta.

To keep street children in the program, LK3 has placed street children under its care at kiosks or workshops near their previous hangout sites to prevent them from getting bored easily.

“What is also important is having a check on them directly regarding why they went to the street in the first place,” he said.